Stagnasi itu penyakit kronis pengusaha.
Saya sering sebut: thulat thulit.
Muter di situ-situ saja.
Dan kalau sudah stagnan, biasanya tinggal tunggu waktu… apa itu?
Yes… decline.
Saya ketemu banyak pengusaha.
Masalahnya jarang di bisnisnya.
Masalah utamanya hampir selalu di pebisnisnya.
Namanya: self sabotage.
Bentuknya macam-macam.
Kadang drama. Kadang banyak alasan. Tapi ujungnya satu: malas.
Terjebak zona nyaman.
Malas mikir. Malas upgrade diri.
Malas exercise. Malas mencoba hal baru, malas mencari secret berikutnya.
Akhirnya bisnisnya ikut thulat thulit.
Masih kelihatan keren, apalagi kalau mainnya di daerah.
Tapi amit sewu… ya begitu saja.
Tidak tumbuh. Stagnan.
Padahal pertumbuhan itu selalu satu paket dengan problem.
Naik kelas, problem naik kelas.
Omzet naik, problem ikut.
Tim nambah, konflik nambah.
Cabang nambah, pusingnya beda.
Kalau problem Anda tiga tahun terakhir masih sama,
hati-hati.
Bisa jadi bukan karena bisnisnya,
tapi anda yg kapasitasnya tidak naik.
Dan.. Saya justru merasa, di level tertentu problem itu adalah sebuah kehormatan.
Level masalah mencerminkan level diri. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar ujiannya.
Orang yang mau bergerak akan dimampukan.Orang yang mau sa’i akan dibukakan jalan.
Karena pengusaha itu memang dekat dengan problem. Dari problem itulah Allah ajari kita berpikir. Dari situ kita dipaksa naik kapasitas.

